Jakarta, MinergyNews– Akhirnya, seluruh desa di Pulau Enggano, Bengkulu, sudah bisa menikmati aliran listrik. Hal ini dipastikan dengan hadirnya tambahan dua mesin pembangkit diesel dengan kapasitas masing-masing sebesar 500 kilo Watt (kW).
Dua dari enam desa di Pulau Enggano, yakni desa Ka’ana dan desa Kahyapu sudah dapat menikmati listrik sejak kemarin, Selasa (23/10). Penyalaan listrik kedua desa tersebut diresmikan oleh General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (WS2JB), Daryono, dan PLT. Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Gotri Suyanto.
“Adanya pembangunan PLTD lebih menggerakkan ekonomi Enggano, karena listrik adalah penggerak bagi masyarakat di sini,” kata Gotri Suyanto.
Tidak hanya itu, di Pulau Enggano, PLN juga membangun jaringan listrik tegangan menengah sepanjang 36 kilometer sirkit (kms), jaringan tegangan rendah sepanjang 21 kms serta 16 gardu distribusi total kapasitas 50 kilo Volt Ampere (kVA).
Menurut Daryono, penambahan mesin pembangkit dan jaringan ini mampu melistriki enam desa dengan potensi 879 pelanggan rumah tangga yang ada.
“Sejak PLN hadir di Pulau Enggano Agustus 2016 lalu, sebagian masyarakat sudah menikmati listrik yang menerangi rumah-rumah mereka. Namun belum seluruh desa dari 6 desa yang ada yang sudah menikmati listrik. Baru desa Malakoni dan desa Apoho di Pulau Enggano dengan total 162 pelanggan yang sebelumnya sudah bisa menikmati listrik PLN,” jelasnya.
Bukan Tanpa Kendala
Namun, upaya PLN untuk terus menerangi Enggano sampai 100 persen ini tentu bukan tanpa kendala. Misalnya proses pengiriman tiang via laut. Meski begitu, ini menjadi tantangan tersendiri bagi PLN demi Enggano yang terang benderang.
“Proses pengiriman tiang yang terlambat dikarenakan jadwal penyeberangan kapal hanya dua kali dalam seminggu, kondisi cuaca yang tidak mendukung seperti badai dan angin kencang sangat mengganggu pengiriman material, struktur tanah yang berpasir juga mempengaruhi dalam proses pemasangan konstruksi dan penarikan jaringan,” tandas Daryono.
Namun kendala-kendala tersebut tidak menyurutkan semangat petugas-petugas PLN dalam membangun infrastruktur ketenagalistrikan di Enggano.
Kelistrikan Enggano saat ini dipasok oleh tiga Unit PLTD dengan kapasitas masing-masing 80 kW, 120 kW dan 50 kW atau total 250 kw. Selain itu, satu desa telah berlistrik yang mendapat aliran dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sedangkan tiga desa lainnya belum berlistrik.
Untuk kebutuhan bahan bakar PLTD 2×500 kW di Enggano, setiap bulannya membutuhkan 5 ton solar dan oli 40 liter dengan beban biaya seluruh operasional pembangkit mencapai 56 juta rupiah.
Sebanyak 75 persen penduduk di Enggano merupakan pelanggan 900 VA dengan tarif listrik Rp 1.467/kWh. Sementara itu, biaya pokok produksi khusus di Enggano sudah mencapai Rp 7.450/kWh.
“Walaupun BPP (Biaya Pokok Penyediaan) tinggi namun kami sadar, listrik yang baik akan membantu warga untuk dapat membangun dan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik, dengan listrik yg handal, anak-anak bisa belajar serta perekonomian mulai menggeliat, untuk itulah penyediaan listrik untuk warga yang utama,” imbuh Daryono.
Sebagai informasi, hingga Oktober 2017 ini di wilayah kerja PLN WS2JB telah dioperasikan Listrik Pedesaan secara keseluruhan sebanyak 12 desa baru dan 8 desa lama di Propinsi Sumatera Selatan; 5 desa baru dan 2 desa lama di Propinsi Jambi; serta 4 desa baru di Propinsi Bengkulu.
Dari sejumlah desa yang direncanakan untuk dapat dialiri listrik pada tahun 2017 ini sebanyak 59 Desa (40 desa baru, 19 desa lama) di Sumatera Selatan, 50 desa (37 desa baru, 13 desa lama) di Propinsi Jambi dan 55 Desa (12 desa baru, 43 desa lama) di Provinsi Bengkulu.