Dana ASR KKKS Capai US$ 2,2 Miliar, Industri Migas Butuh Perbankan Nasional

Jakarta, MinergyNews– Dana Abandonment and Site Restoration (ASR) yang berasal dari kontraktor migas (KKKS) mencapai US$ 2,2 miliar atau senilai Rp 32 triliun. Dana ASR merupakan akumulasi dana yang dicadangkan untuk melaksanakan kegiatan pemulihan pasca tambang wilayah kerja migas. Dana ini dikumpulkan di dalam rekening bersama antara SKK Migas dan KKKS.

Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto dalam Webinar Peran Perbankan Nasional dalam Menunjang Kegiatan Hulu Migas yang digelar oleh Energi Watch, Kamis (19/08/2021).

Dwi mengatakan, hingga kini akumulasi jumlah dana ASR di bank BUMN saat ini mencapai USD 2,2 miliar atau sekitar Rp 32 triliun, yang tentu berperan besar dalam meningkatkan kemampuan pembiayaan bank BUMN dalam penyaluran kredit.

“Potensi dana ASR akan semakin besar ke depannya karena banyaknya wilayah kerja hulu migas yang dalam tahap pengembangan di Indonesia seiring dengan besarnya investasi hulu migas,” tuturnya.

Selain itu, menurut Dwi, industri hulu migas dapat menarik investasi dengan total US$ 187 miliar, dengan total gross revenue sebesar US$ 371 miliar dan proyeksi pendapatan negara sebesar US$ 131 miliar dalam program produksi 1 juta BOPD dan 12 BSCFD.

“Belum lagi ditambah dengan Internal Rate Return (IRR) industri hulu migas minimal berada di kisaran 14 persen pada saat investasi awal,” katanya.

Bahkan, tambah Dwi, beberapa blok migas yang sudah berproduksi seiring dengan ditemukannya sumur migas yang baru, sehingga IRR meningkat lebih tinggi dibandingkan saat investasi awal.

Dwi menjelaskan, nantinya potensi-potensi ini dapat disediakan oleh perbankan nasional, karena di tahun 2020 total penyaluran kredit perbankan nasional mencapai Rp 5.482,5 triliun, sedangkan kebutuhan investasi hulu migas dengan kisaran US$ 12 miliar atau sekitar 3 persen dari kemampuan pembiayaan perbankan nasional tersebut.

Sementara itu, lanjut Dwi, Indonesia memiliki sebanyak 128 cekungan migas, yang mana dari jumlah itu baru 21 cekungan yang baru berproduksi, 38 cekungan dalam tahap ekplorasi sementara 70 cekungan masih belum tersentuh.

“Karena itu dibutuhkan kerja sama dari banyak sektor termasuk perbankan nasional,” tegasnya.

Akan tetapi, menurutnya, dalam bauran energi nasional peranan sektor migas terus berkurang tetapi secara volume kebutuhannya terus meningkat, sehingga tetap dibutuhkan investasi dan eksplorasi. Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) kebutuhan tahun 2050 yang berasal dari minyak mencapai 3,9 juta barel per hari atau meningkat 139 persen dari saat ini dan gas mencapai 26.112 MMSCFD atau 298 persen dari saat ini.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *