Jakarta, MinergyNews– Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyatakan, terkait produksi migas, diperkirakan dalam setahun ke depan akan lebih sulit mengingat penurunan kegiatan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19.
Dwi mengungkapkan, diperkirakan juga terjadi penurunan pendapatan dari US$ 32 miliar menjadi US$ 19 miliar.
Selain itu, tambahnya, penurunan gross revenue ini terjadi akibat kondisi harga minyak dan kebijakan perubahan paradigma bahwa sektor migas bukan lagi sebagai sumber pendapatan negara tetapi lebih sebagai penggerak ekonomi.
Meski demikian, lanjutnya, Pemerintah tidak lantas tinggal diam. Sejumlah langkah akan dilakukan, antara lain berkoordinasi dengan KKKS terkait untuk melakukan review kerja di tahun 2020. Review kerja meliputi negosiasi ulang atas kontrak-kontrak yang ada oleh KKKS demi menciptakan efisiensi biaya.
“Selain itu, melakukan comprehensive assessment terkait opsi-opsi harga minyak untuk memperhitungkan keekonomian di lapangan, serta mengevaluasi kembali penundaan planned shutdown hingga mempertimbangkan pemberian paket stimulus kepada KKKS,” tuturnya.
Dan yang terakhir, Dwi menjelaskan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan stakeholder terkait atas pengecualian mobilisasi barang dan personel untuk industri hulu migas selama masa pandemi Covid-19.